Tuesday, August 3, 2010

Membangun Rumah Indonesia

Indonesia cenderung kehilangan arah dalam meletakkan fondasi yang kokoh bagi bangunan masa depan bangsa yang lebih menjanjikan. Indonesia sering disebut sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia setelah India dan Amerika Serikat, karena berhasil menyelenggarakan pemilu secara bebas dan demokrasi tahun 1999. Selain pemilu, berbagai langkah reformasi pasca Soeharto seperti kebebasan sipil, reformasi konstitusi, serta desentralisasi dan otonomi daerah juga dipuji dunia Internasional sebagai prestasi yang membanggakan.

P2P- LIPI menyelenggarakan Seminar Nasional "Membangun Rumah Indonesia, Memihak Bangsa Sendiri", dengan pembicara Prof Dr Mochtar Pabottingi di Widya Graha LIPI. Bertolak dari keprihatinan yang mendalam terhadap realitas Indonesia yang sering kali terperangkap dalam hiruk-pikuk politik kekuasaan.

Dengan tujuan untuk merumuskan pemikiran alternatif dalam mencari solusi dan perbaikan atas persoalan bangsa sehingga dapat menciptakan Rumah Indonesia yang lebih nyaman dan menjanjikan di masa depan.

Selengkapnya dapat dibaca di http://id.news.yahoo.com/antr/20100803/tpl-lipi-gelar-seminar-rumah-indonesia-cc08abe.html

Monday, July 12, 2010

Historis Industri Tekstil Nasional


Secara umum terjadi peningkatan kinerja yang cukup baik pada industri tekstil Indonesia sepanjang tahun 2004. Perbaikan kinerja tersebut ditandai dengan adanya ekspansi beberapa industri yang meningkatkan  kapasitas produksi secara nasional, meningkatkan jumlah produksi riil, meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan adanya pertumbuhan eksport. Secara keseluruhan peningkatan kapasitas produksi secara nasional di tahun 2004 mencapai 4%. Pada tahun 2004 kapasitas produksi secara keseluruhan dari kelima sub-sektor, yaitu: fiber, spinning, weaving/knitting, garment dan tekstil lainnya, meningkat dibandingkan tahun 2003. Kapasitas produksi pada tahun 2003 tercatat sebesar 5.79 juta ton dan pada tahun 2004 meningkat menjadi 6 juta ton. Demikian pula halnya dengan produksi riil. Produksi tekstil Indonesia pada tahun 2004 naik 4% dibandingkan dengan tahun 2003. Pada tahun 2003 produksi riil untuk sektor tekstil tercatat 4.19 juta ton dan pada tahun 2004 meningkat menjadi 4.36 juta ton. Pertumbuhan tersebut memberikan dampak cukup baik bagi penyerapan tenaga kerja secara nasional. Meskipun demikian, kecenderungan perusahaan untuk mengurangi ketergantungan terhadap jumlah tenaga kerja mengakibatkan pertumbuhan penyerapan tenaga kerja hanya 0.1%. Pertumbuhan lainnya juga terjadi dalam kinerja eksport tekstil. Peningkatan volume ekspor pada tahun 2004 mencapai 70 ribu ton atau naik sekitar 4.5% dibandingkan tahun 2003 yang mengakibatkan adanya peningkatan nilai ekspor sebesar 8.4%.

Fiber Making
Dalam sub-sektor industri pembuatan serat yang merupakan industri sub-sektor hulu dengan sifat usahanya yang padat modal dengan jumlah tenaga kerja relatif kecil, pada tahun 2004 tidak terdapat penambahan jumlah pabrik. Namun yang terjadi adalah ekspansi perusahaan sehingga menyebabkan kapasitas produksi meningkat sebesar 2.65% dibanding tahun 2003. Dibanding tahun 2003, terjadi peningkatan produksi pada sub-sektor ini sebesar 3.37%. Sedangkan untuk impor, terjadi peningkatan sebesar 0.06% dalam nilai dan 16% dalam volume. 
Spinning

Sebagaimana dalam sub-sektor industri pembuatan serat, dalam sub-sektor industri pemintalan-pun pada tahun 2004 juga melakukan ekspansi yang menyebabkan peningkatan kapasitas produksi sebesar 2,65% dan peningkatan jumlah volume produksi sebesar 2,79% dibandingkan tahun 2003. Sedangkan dalam perdagangan luar negeri pada tahun 2004 terjadi peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan tahun 2003, baik dalam ekspor maupun impor. Peningkatan yang terjadi pada kegiatan ekspor adalah sebesar 21,92% untuk nilai dan pada volume sebesar 4.52%. Sementara itu pada kegiatan impor, peningkatan terjadi sebesar 24,78% untuk nilai dan 28,62% untuk volume. Weaving/Knitting
Dalam sub-sektor industri pertenunan dan perajutan, pada tahun 2004 terjadi peningkatan kapasitas produksi sebesar 3.09% dan produksi sebesar3.03% dibandingkan tahun 2003. Namun untuk nilai maupun volume ekspornya menurun, yaitu sebesar 2.52% untuk nilai dan 8.90% untuk volume. Sedangkan pada kegiatan impor, kenaikkan yang terjadi hanya dalam volume sebesar 17.29% sementara dalam nilai terjadi penurunan sebesar 5.50%.GARMENT
Garment
Sub-sektor industri pakaian jadi ini merupakan sub-sektor industri hilir dengan sifat padat karya. Pada sub-sektor ini ditahun 2004 terjadi peningkatan kapasitas produksi dan produksi riil yang masing – masing sebesar 12.88% dan 12.14% dibandingkan tahun 2003. Pada tahun 2004 terjadi penurunan volume ekspor sebesar 2.84% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun karena rata – rata unit price produk garment pada tahun tersebut meningkat meningkat 13.17%, maka secara keseluruhan terjadi peningkatan nilai ekspor sebesar 9.94%. Demikian pula halnya dalam kegiatan impor. Secara volume terjadi penurunan impor sebesar 24.43%, namun secara nilai terjadi peningkatan sebesar 101.65%. 
Pada tahun 2004, peningkatan kapasitas produksi dn produksi riil pada sub-sektor industri tekstil lainnya ini masing – masing adalah sebesar 12.88% dan 22.77%. Pada sector ini jika dibandingkan dengan tahun 2003, maka pada tahun 2004 terjadi penurunan ekspor sebesar 1.64%, namun untuk nilai ekspornya meningkat sebesar 8.82%.

Tuesday, January 19, 2010

Build Operate Transfer (BOT)

Contract Build Operate Transfer (BOT) is a collaboration between the government and the private sector in building public infrastructure that aims to improve the infrastructure growth without spending money from the government. Application of this contract, the private sector finance, design, build, operate and maintain infrastructure facilities within a specific concession period and ending with delivery of facilities to the government without any compensation. Private parties to get revenue from the operation of these infrastructure facilities during the concession period lasted.

Thus the BOT model gives an opportunity and liberty to customers (offshore) to get  Offshore Center (OC) build and operated as per their specific needs and also set up the processes in various stages to suit their business needs.
The staged process helps the client to evaluate the risks involved and also helps them to check the feasibility before investing in full-fledged manner.

Source: http://www.omnitechindia[.]com/

The BOT Model would typically be used for:
An organization wishes to commence business in a country where it does not haveits base. The organization would look at getting a local company to reduce risk its venture into the new country.An organization doesn’t have the expertise in that process, and wants to pool in specialized and dedicated resources to execute it. Here the organization will tie up with a mature player who already has expertise and knowledge for it.

Key points involved in executing a BOT model:An organisation does a feasibility of approach - setup the said project on its own or work on a BOT model. If opted for BOT model, then,Service providers are shortlisted and a dialogue is initiated with them.

The parameters are shared with the service providers and their intent is ascertained whether or not they would be keen to proceed with such an arrangement. It is very important to find a matured service provider as he has the right domain knowledge and expertise that helps to get the optimal returns from the investment.

The initial agreement is signed which spells out the nature of contribution that each of the participants will bring to the table. It also spells out the time duration for the transfer of project/rights. This is referred to as the `put' or `call' options i.e., whether one of the participants to the venture would put their shares to be