Wednesday, November 26, 2008

Perbankan Bakal Lebih Selektif

Perbankan nasional 2009 diperkirakan lebih selektif dalam menyalurkan kredit kepada nasabah, karena melambatnya pertumbuhan ekonomi nasional, akibat tekanan krisis keuangan global makin meningkat.  

"Bank-bank di dalam negeri akan melakukan upaya ekstra ketat dalam menyalurkan kreditnya dengan sikap hati-hati agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari," kata Direktur bidang internasional PT Panin Bank Tbk, Hendra Dani Saputra kepada pers di Jakarta, Rabu (26/11).
   
Perbankan kemungkinan akan menyalurkan kredit ke Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dengan porsi yang lebih besar karena sektor tersebut lebih tahan dalam kondisi apapun. Apalagi UKM masih mempunyai peluang besar untuk digarap, katanya.

Perbankan saat ini mendapat kelonggaran terhadap giro wajib minimum yang semula sebesar 9 persen dari dana pihak ketiga turun menjadi 7,5 persen. Hal ini dilakukan Bank Indonesia (BI) untuk mendorong perbankan punya akses lebih besar dalam menyalurkan kreditnya kepada masyarakat, ucapnya.

"Apabila likuiditas perbankan ketat dan permintaan kredit nasabah menurun akan menimbulkan dampak negatif bagi pertumbuhan ekonomi nasional," katanya.
   
Menurutnya, BI berusaha memberikan kelonggaran kepada perbankan agar pertumbuhan ekonomi berjalan baik namun BI saat ini masih tetap mempertahankan suku bunga acuannya (BI Rate) 9,5 persen.

Perbankan saat ini mengharapkan BI menurunkan BI Rate, sehingga mereka bisa menyesuaikan diri untuk memicu nasabah mencari kredit baru dalam upaya meningkatkan usahanya.
   
Nasabah dalam dua bulan terakhir ini cenderung menahan diri, karena suku bunga bank cenderung makin meningkat. Suku bunga kredit bank saat ini antara 15-16 persen.

Ekonomi Indonesia masih dapat tumbuh asalkan pemerintah memperkuat pasar domestik dan mengurangi impornya serta mencari pasar ekspor baru terutama di kawasan Timur Tengah. "Apabila hal ini dapat dilakukan maka ekonomi nasional akan dapat tumbuh dengan lebih baik," ucapnya.
sumber: http://www.kompas.com/

Monday, November 24, 2008

Indonesian growth forecast to slide to 2.5 percent

by: The Jakarta Post , Jakarta | Mon, 11/24/2008 11:36 AM | Business 

Indonesia's economy will still end up this year with a forecast growth in gross domestic product of nearly 6 percent mainly on the back of robust expansion in the first three quarters. 

However, as the global financial crisis has been getting worse since September and economic recession has spread from the United States to Europe and Japan, analysts have been constantly revising downward their forecasts on Indonesia's economic outlook. 

Only about ten days ago, Justin Wood, the Economist Intelligence Unit's director for Southeast Asia, forecast a 3.7 percent economic expansion for Indonesia next year. 

This, he acknowledged, was below the consensus forecast of economists. 

But President of PT UBS Securities Indonesia Sarah-Jane Wagg, in an interview with The Jakarta Post's Vincent Lingga last week, came up with an even lower estimate, forecasting that Southeast Asia's largest economy would expand by a mere 2.5 percent, a nine-year low. 

The following are excerpts from the interview: Question: What do you think will be the outlook of Indonesia's economy next year? Answer: Given our global recession call, we are expecting Indonesian growth to moderate quite significantly, falling to 2.5 percent in 2009 from an estimated 5.8 percent this year. The prices of almost all primary commodities are falling and investments would be very weak. 

But I think there are virtually no downside risks to this forecast, meaning that would be the bottom. What will be the key drivers? 

Private consumption will remain the locomotive. However, the cyclical downturn alongside the tightening liquidity we are already seeing will affect investment growth. It will be difficult for private investment for exogenous and endogenous reasons. 

Globally, there is a flight of capital away from developing economies and Indonesia will not remain unscathed. 

Access to financing is already being made difficult for corporations, as the Bakrie Brothers episode is demonstrating. 

Domestically, a tightening liquidity situation, given the rapid credit expansion in the previous three quarters and keener competition for funding (meaning higher costs) is also putting new lending on hold, thus impacting private investment in a similar fashion 

Growth in Bank lending will slow significantly from the current 35 percent annual rate to 10 percent or even lower in 2009. How do you see the rupiah will perform next year? 

I think it may take two quarters before imbalances such as the high lending activity and corrections on imports translate into a small current account surplus, especially because export growth is likely to continue to decline and trade volume growth is expected to fall further, while the prices of most primary commodities will remain low. 

Until then, as the economic numbers turn significantly weaker, the risk of capital withdrawal and currency weakness remains. 

The government should make it compulsory for all on-shore transactions to be in rupiah. I think there would not be much leeway for Bank Indonesia to lower its benchmark interest rate because a significant easing of the monetary stance could affect the rupiah. 

The differentials between the BI Rate and the U.S. Fed funds should be kept relatively high to encourage investors and depositors to hold onto their rupiah assets. 

We expect the current rupiah overshoot to recover to Rp 9,800 per dollar by end 2009. What about the Indonesian stock exchange? 

Sorry, its almost an impossible call as the current trading level is totally divorced from the fundamentals of the economy. What are the prospects for government and corporate bonds? 

New government and corporate bond issuance will remain difficult in our view until global liquidity eases more significantly and global currency fluctuations stabilize (in part reflecting the end of capital repatriation on a large scale back to the American dollar) and risk appetite thus returns. 

However, investors would still be interested in both corporate and government bonds at the right prices, meaning that investors would demand high yields, perhaps as high as 16 percent. 

Bonds from extremely well managed companies operating in sectors with high-growth prospects in the future still have a good chance on the market.

Saatnya Kerja Sama Menangkis Krisis

Dampak krisis global sudah terasa. Industri padat karya penghasil produk konsumsi mulai meradang karena kehabisan permintaan. Order ekspor yang biasa melimpah di akhir tahun kini sepi. Buruh dan pengusaha pun berada di bibir jurang yang sama. Kerja sama yang solid kini dibutuhkan untuk menangkis dampak krisis.

Sekarang rasanya bukan saat yang tepat untuk saling berdebat. Krisis global sudah mulai menggerogoti kita. Jika tak solid, pengusaha dan buruh bakal sama-sama tergilas krisis global, yang berawal dari ambruknya sektor keuangan di Amerika Serikat dan Eropa.

AS mengalami tingkat pengangguran terburuk selama 14 tahun terakhir. Sebanyak 600.000 orang kehilangan pekerjaan dalam tiga bulan terakhir dan menjadi bagian dari 1,2 juta orang penganggur baru di AS tahun ini.

Pekerja industri manufaktur, properti, metal, dan jasa keuangan merupakan sektor yang paling banyak menjadi penganggur. Ekonom Goldman Sachs, biro riset AS, memperkirakan, tingkat pengangguran mencapai 8,5 persen tahun 2009.

Mereka yang tidak bekerja akan mengurangi belanja, yang menggerakkan dua pertiga kegiatan ekonomi nasional. Kondisi ini yang kemudian turut menekan permintaan pasar AS terhadap produk negara lain.

Produsen tekstil, produk tekstil, dan komponen elektronik atau kendaraan bermotor Indonesia mulai merasakannya.

Produsen yang berorientasi ekspor kini kehilangan pasar. Pasar lesu, bertepatan dengan berlangsungnya rutinitas akhir tahun penetapan upah minimum baru tahun 2009.

Industri padat karya kelimpungan. Mereka mulai mengurangi produksi sedikitnya 30 persen. Tak sedikit buruh yang dirumahkan. Buruh kontrak dan pemasok bahan baku pun terpaksa menganggur.

Kesinambungan

Kalangan serikat buruh dan pengusaha sepakat, kesinambungan pekerjaan sangat penting bagi pekerja. Namun, peran pemerintah sebagai pengawas implementasi peraturan ketenagakerjaan tetap dibutuhkan. Optimalisasi bipartit akan sulit tercapai jika pemerintah tidak netral.

Menurut Presiden Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (K-SBSI) Rekson Silaban, forum bipartit di tingkat pabrik harus lebih aktif bertemu dan mencari solusi jika perusahaan menghadapi kendala. Politisasi persoalan justru bakal mempersulit keadaan. ”Segera identifikasi sektor yang terkena dampak langsung krisis agar proses penyelamatan bisa lebih cepat,” kata Rekson.

Soliditas buruh dan pengusaha sangat dibutuhkan sekarang untuk mencegah PHK massal jika krisis semakin parah. Lembaga donor internasional pun jangan lagi memakai syarat yang membebani negara debitor saat memberi pinjaman. Rekson bakal menyampaikan hal ini dalam pertemuan serikat buruh dari 20 negara dengan pemimpin G-20 di Washington DC, AS, Sabtu (15/11).

Presiden Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia Said Iqbal mengatakan, manajemen harus lebih terbuka kepada serikat pekerja tentang kondisi perusahaan. Ini membuat pekerja lebih siap. ”Kalaupun dimulai dari pembahasan pergeseran jam kerja, dirumahkan, sampai akhirnya ada pemutusan hubungan kerja, semuanya tidak tiba-tiba. Jadi, pekerja bisa lebih mempersiapkan diri untuk mengantisipasinya,” kata Iqbal.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan, pengusaha tetap memiliki kepentingan yang sama dengan buruh saat ini. Jika buruh membutuhkan pekerjaan, maka harus bersama dengan pengusaha mempertahankan perusahaan.

”Investasi baru sudah tak mungkin diharap saat ini. Jadi, tak ada jalan selain mempertahankan yang sudah ada. Pengusaha hanya butuh ketenangan agar usahanya tidak hancur akibat krisis global dan politisasi persoalan,” ujar Sofjan.

Hamzirwan 
Sumber : Kompas Cetak
Rabu, 12 November 2008 

Friday, November 21, 2008

Krisis, Proyek-proyek Baru Properti Dihentikan Sementara

Sejumlah pengembang perumahan kini menghentikan sementara pembangunan proyek-proyek baru. Langkah itu ditempuh untuk mengamankan likuiditas dan mengurangi risiko pendanaan proyek di tengah semakin menipisnya daya serap pasar.

Hal itu dikemukakan Wakil Ketua Dewan Pimpinan Pusat Real Estat Indonesia (DPP REI) Djoko Slamet, Rabu (19/11) di Jakarta. Proyek yang mengalami penundaan meliputi properti kelas menengah ke bawah, menengah, hingga menengah atas.

Penghentian sementara itu umumnya dilakukan terhadap proyek-proyek yang belum memasuki tahap konstruksi dan dinilai belum menyerap pasar yang signifikan, yakni di bawah 60 persen dari total unit yang ditawarkan.

”Penghentian sementara proyek baru dilakukan sampai kondisi pasar membaik dan daya beli konsumen meningkat. Kalau proyek baru dipaksakan untuk dibangun, kas pengembang rawan terganggu di tengah semakin ketatnya likuiditas,” papar Djoko.

Proyek-proyek baru yang dihentikan terutama adalah proyek apartemen dan bangunan vertikal. Adapun pengembang proyek rumah tinggal menerapkan strategi menyelesaikan pembangunan rumah secara bertahap berdasarkan pesanan.

Sementara itu, pembukaan kawasan properti baru juga cenderung dihentikan. ”Pengembang kini lebih berkonsentrasi mengoptimalkan pembangunan properti di lahan-lahan yang sudah digarap,” tuturnya.

Corporate Secretary PT Perdana Gapura Prima Rosihan Saad mengungkapkan, pihaknya menunda pembangunan proyek perkantoran dan apartemen kelas atas senilai Rp 1,5 triliun-Rp 2 triliun yang semula akan dimulai awal tahun 2009.

Penundaan proyek dengan segmen pasar asing itu terpaksa dilakukan karena tingginya suku bunga kredit, daya serap pasar yang lesu, dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.

”Untuk proyek yang baru berjalan, akan tetap diselesaikan dengan berbagai penyesuaian. Apabila diperlukan, akan dilakukan pemunduran jadwal (penyelesaian),” ujar Rosihan.

Perlambatan rusunami

Ketua Umum DPP Real Estat Indonesia Teguh Satria mengemukakan, penundaan pembangunan perumahan berimbas pada perlambatan proyek pembangunan rumah susun sederhana milik (rusunami).

Kenaikan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) dan pengetatan likuiditas oleh perbankan telah melemahkan pasar rusunami bersubsidi.

Minat konsumen untuk membeli rusunami bersubsidi dengan harga Rp 144 juta per unit semakin lemah sebagai imbas tingginya suku bunga KPR.

”Sejumlah pengembang kini memilih untuk menunda proyek guna melihat kekuatan pasar,” katanya.

Teguh berharap proyek yang sudah berjalan dan memiliki pasar yang signifikan tetap dilanjutkan dengan dukungan semua pihak, baik pengembang, perbankan, maupun pemerintah.

Penundaan pembangunan proyek baru jika terus dibiarkan akan berdampak pada terhambatnya penyediaan rumah untuk rakyat.

Oleh karena itu, diperlukan upaya pemerintah untuk mengamankan likuiditas penyaluran KPR. Bantuan likuiditas itu diperlukan guna mengatasi melemahnya pasar rusunami akibat tingginya beban suku bunga kredit.


Sumber : Kompas Cetak

Thursday, November 20, 2008

Apartemen di Bali: Dimensi dalam Konstruksi

SAYA teringat, salah satu hal yang menyebabkan saya memutuskan untuk hidup dan tinggal di Bali adalah karena Bali relatif mempunyai sesuatu yang lugu, murni, jauh dari tanda-tanda ikonik yang berkesan angkuh dan jumawa seperti di kota-kota besar lainnya di Indonesia, sebutlah seperti di Jakarta atau Surabaya.

Walaupun saya sadar betul bahwa tidak ada yang 100% murni – selalu terdapat ideologi di baliknya, meski ideologi itu bernama ‘idealisme kapitalisme’ karena ujung-ujungnya toh dijual juga, karena bagaimanapun Bali sangat identik dengan dunia pariwisata yang tak terlepas dari kapitalisme itu sendiri.

Seiring dengan perjalanan waktu, percepatan pertumbuhan komoditi pariwisata di Bali sangat kuat terlihat, terutama dalam tiga tahun terakhir. Selalu ada wilayah baru yang belum kita akrabi, membuat pulau ini semakin tajam terdiri dari berbagai lapis dimensi.

Perbedaan dimensi ini menjadi semakin nyata dalam dua arti. Pertama, semakin jauhnya dari akar budaya dan kebiasaan hidup masyarakat Bali. Yang kedua, terjadinya penumpukan bangunan di wilayah-wilayah tertentu saja walaupun, ya itu tadi, merupakan hal yang sah-sah saja karena ada pertaruhan nilai investasi.

Dari pesisir Barat sampai ke Selatan hingga ke pelosok-pelosok desa yang terpencil kita melihat bangunan-bangunan komersial tertentu, pembangunan Villa, hotel butik dan apartemen yang mulai menjulang. Semuanya menurut saya ‘sahih’, tetapi cenderung menjadi pemandangan yang sama seperti yang dapat kita jumpai di tempat-tempat lain di luar Bali.

Lihatlah kotak-kotak kaca yang saling bertumpuk vertikal di depan pantai atau di tengah padang, seakan tampil nyaris dalam satu keseragaman, tidak ada bedanya dengan bentukan-bentukan yang ada di Jakarta, Singapore, Gold Coast atau Hong Kong.

Eksotisme budaya dan sedikit atmosphere magis yang kental menyelimuti berbagai tempat di Bali menjadi daya tarik luar biasa, terutama bagi dunia pariwisata, perlahan-lahan mengalami pergeseran. Tidak bisa dipungkiri pergeseran tersebut mungkin memang harus terjadi sebagai jawaban dari permintaan pasar, sebagai bentuk perkembangan atau mungkin tanggung jawab atas reputasi Bali sebagai tujuan pariwisata dunia.

Jalan-jalanlah di daerah Sunset Road, Pecatu atau Blue Ocean (daerah Double Six yang terkenal itu), dan masih banyak tempat-tempat lainnya yang sedang dalam tahapan pembangunan. Dengan mudah Anda akan menjumpai unit apartemen empat sampai lima lantai, yang akan membuat Anda merasa seperti bukan di Bali lagi.

Bagi saya sebelumnya, Bali adalah deretan bangunan-bangunan yang ramah (karena tidak menjulang tinggi seolah angkuh tak terjamah) dengan fasad yang kontekstual dengan lingkungan. Sedikit terkesan kampung jauh dari kesan gemerlapan. Sebuah konstruksi citra diri yang melekat sekian lama; potret kreativitas yang kental dengan budaya.

Walaupun secara langsung berhubungan dengan masyarakat, budaya dan peradaban luar, Bali jauh dari kesan gemerlap nan jumawa, hotel, villa, resor, kafe-kafe hadir dalam bentuk yang manusiawi, hangat dan akrab dengan ukuran kemewahan tersendiri.

Waktu memang bergerak dan semua yang tidak mau menjadi sejarah harus larut di dalamnya. Begitu juga pertumbuhan akomodasi di Bali dengan fenomena maraknya pembangunan apartemen saat ini. Dapat dimengerti, jika percepatan pembangunan yang terjadi seakan-akan menjadi momen balas dendam setelah sempat beberapa saat mengalami keterpurukan akibat bom bali yang dua kali meluluh lantahkan sektor pariwisata, yang menyebabkan hampir setiap sendi kehidupan di Bali berinteraksi secara langsung dengannya. 

Apartemen atau rumah publik pada dasarnya adalah ‘merumah’ di lahan yang semakin terbatas, jawaban untuk memiliki rumah dengan fasilitas yang kompak dan efisien, atau mempunyai rumah yang terjangkau di area favorit.

Selain itu sebagai pilihan gaya hidup atau bahkan bisa menjadi representasi kelas tertentu, karena pertumbuhan ekonomi kelas menengah baru hampir di banyak tempat di Indonesia atau di negara lain, yang mana golongan ini notabene mempunyai daya mobilitas dan daya beli yang tinggi, sehingga merupakan sasaran yang pas untuk dieksploitasi seluruh kebutuhannya.

Kita tidak bisa menutup mata. Pembangunan-pembangunan ini merupakan geliat roda ekonomi di Bali yang bukan terjadi dengan ‘tidak sengaja dan tanpa upaya’, adalah upaya integral untuk kembali menaikkan pamor Bali sebagai tempat favorit tujuan wisata dunia. Salah satu indikasi pertumbuhan ekonomi memang dengan mudah terlihat secara makro dengan pesatnya pertumbuhan properti termasuk apartemen-apartemen ini, dan menjadi lahan investasi menarik bagi para penanam modal baik dalam maupun luar negeri.

Pertanyaannya sekarang, apakah pertumbuhan apartemen-apartemen tersebut terjadi secara sembarangan atau terkonstruksi? Mungkin ada baiknya bagi pihak-pihak terkait untuk mencermati secara mendalam dan mempunyai kontrol yang ketat terhadap pemberian ijin membangun misalnya, supaya tidak menjadi pertumbuhan yang silang sengkarut dan merugikan banyak pihak. Karena berbicara tentang pertumbuhan infrastuktur (baca: apartemen) melibatkan tanggung jawab yang kompleks baik dari pihak pengembang dan pemerintah Bali itu sendiri.

Bagi pemerintah tentu saja merupakan hal yang menguntungkan, tetapi terjadi kebijaksanaan yang ‘tidak bijaksana’ seperti pemberian ijin bangunan secara sembarangan. Satu bangunan dapat lolos didirikan tetapi tidak satu atau dua kali terjadi, pada bangunan yang lain terdapat revisi terhadap bentuk desain yang tidak sesuai dengan bentuk ‘tradisional Bali’ yang berujung pada pemberhentian pembangunan. Atau bahkan perubahan desain bangunan secara total.

Tentu saja hal ini mengakibatkan kerugian bagi pihak penanam modal, dan menyebabkan jalur investasi tersendat karena ketidaksiapan pihak terkait menyiapkan perangkat peraturan yang menjamin amannya investasi tersebut dilakukan. 

Penyebaran lokasi, hal ini sangat penting supaya tidak terjadi penumpukan di daerah-daerah tertentu seperti yang sudah sempat disinggung sebelumnya yang bisa mengakibatkan persaingan harga yang tidak sehat, menimbulkan lapisan dimensi yang semakin dalam. Yang tentu saja pada akhirnya juga merugikan semua pihak. Secara mikro juga harus terdapat cultural profit di dalamnya.

Jangan sampai dengan maraknya pembangunan tersebut menggerus pesona eksotisme budaya dan pesona alam Bali yang menjadi komoditas pariwisata utama. Jika muncul permasalahan baru, seperti lapis-lapis dimensi yang bertumpuk absurd, kalau primadona tersebut hilang harus ada alternatif gantinya, siapkah??? (Text: Georgie T. Kadarusman; graphic: bh) •

Georgie T. Kadarusman. (Interior Architect)



Tuesday, November 18, 2008

Superblok, Primadona Baru

Pengembang properti ramai-ramai menggarap proyek superblok. Bahkan, berdasarkan analisa Direktur Eksekutif Pusat Studi Properti Indonesia Panangian Simanungkalit kapitalisasi pada periode 2006 sampai 2013 mendatang mencapai Rp94,8 triliun.

"Pasar properti di Indonesia memang anomali pada saat negara lain mengalami perlambatan, di Indonesia justru booming," kata Panangian di Jakarta, Selasa (26/8).

Menurut dia, kondisi ini terkait erat dengan kemampuan Indonesia lolos dari krisis yang melanda dunia akibat BBM, naiknya harga pangan, serta finansial yang dipicu kasus supreme mortgage di Amerika Serikat.

"Bisa dilihat dari indikator inflasi China delapan persen padahal biasanya empat persen, India 7,5 persen semula 3,5 persen, Malaysia tujuh persen semula dua persen, Singapura delapan persen semula 2,5 persen, Vietnam 12 persen semula enam persen, dan Australia 7,5 persen semula tiga persen," kata Panangian.

Indonesia hanya terpengaruh sedikit akibat krisis BBM sedangkan lainnya tidak terkena sama sekali sehingga diperkirakan inflasi tahun 2008 sekitar 11,5 persen dari semula 6,5 persen. Akan tetapi, hal ini tidak berlangsung lama tahun 2009 mendatang diperkirakan kembali 6,5 persen, kata Panangian menjelaskan.

Menurut Panangian, harga bahan bangunan memang mengalami kenaikan 10 sampai 20 persen. Tapi, kenaikan itu masih lebih murah ketimbang di Singapura. Superblok di Indonesia biaya konstruksinya sekitar 2.000 dollar AS per meter persegi, sementara di Singapura mencapai 15.000 dollar AS per meter persegi.

Panangian mengatakan dengan perkembangan ekonomi yang tidak menguntungkan di luar negeri, pembeli properti asal Indonesia yang semula memiliki properti di Singapura kini kembali ke Indonesia. Salah satunya, mereka melakukan investasi di superblok.

Panangian mengatakan keterbatasan lahan di kota-kota besar mendorong pengembang membangun superblok yang di dalamnya mengkombinasikan mal, hunian (apartemen), hotel, serta perkantoran dalam satu kawasan (mixed use).

Tetapi hanya pengembang yang memiliki modal kuat saja yang sanggup membangun superblok karena untuk lahan di bawah tiga hektare setidaknya dibutuhkan dana Rp1 triliun, 3-5 hektare Rp2 triliun, serta lebih dari lima hektare Rp3 triliun.

Panangian mengatakan berbeda dari sebelum krisis pembangunan proyek properti saat ini dilandasi dari sumber dana yang kuat dari pengembang. Mereka kemudian melihat peluang bisnis untuk proyek properti dengan harga Rp1 miliar (segmen menengah atas).

Sejumlah pengembang yang masuk superblok menurut catatan Panangian ada 12 proyek di antaranya CBC Pluit milik Agung Sedayu Group, Gandaria City milik Pakuwon Group, Regatta The Icon milik Intiland Development, Podomoro City milik Agung Podomoro Group, Rasuna Epicentrum milik Bakrieland Development, Season City milik Agung Podomoro Group, Kemang Village Lippo Group, St. Moritz Lippo Group, Ciputra World Jakarta milik Ciputra Group, Tangerang City milik Trivo Group, Kota Casablanca milik Pakuwon Group, dan Kuningan City milik Agung Podomoro Group.

Panangian memperkirakan, para pengembang itu memanfaatkan lahan mulai dari 29.000 meter persegi sampai dengan 210.000 meter persegi dengan nilai kapitalisasi paling rendah Rp4,4 triliun di Tangerang City sampai Rp11,6 triliun di St.Moritz.

Kompas: Selasa, 26 Agustus 2008

Monday, November 17, 2008

Pertumbuhan Ekonomi Triwulan III 3,5 Persen

Pertumbuhan Ekonomi Triwulan III 2008 dibandingkan Triwulan II 2008 mencapai 3,5 persen. Jika dilihat secara year on year (yoy) triwulan III 2008 dengan triwulan III 2007 pertumbuhan ekonomi mencapai 6,1 persen. "Secara garis besar, pertumbuhan ekonomi kita masih menunjukkan pertumbuhan yang bagus karena ada Lebaran, dan sebagainya. Namun, ada perlambatan, " kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan, saat jumpa pers, di kator BPS, Jakarta, Senin (17/11).

Jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada triwulan III terhadap triwulan II 2007 lalu mencapai 3,9 persen. Sedang Pertumbuhan Ekonomi yoy triwulan III 2007 terhadap triwulan III 2006 mencapai 6,5 persen. "Ini menunjukkan perlambatan jika dilihat dan dibandingkan dengan tahun 2008 ini," ujarnya.

Rusman mengatakan turunnya pertumbuhan ekonomi Triwulan III 2008 ini dikarenakan turunnya pertumbuhan ekonomi dunia. Bahkan negara-negara besar seperti Amerika, Jepang, dan Inggris juga menurun. Pertumbuhan ekonomi Amerika pada triwulan III 2008 hanya 1,6 persen, Jepang 0,7 persen, dan Inggris 1 persen. "Secara pasif menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang terus menurun," kata Rusman.

Turunnya pertumbuhan ekonomi juga dipicu turunnya harga komoditi dunia. Komoditas Indonesia seperti tembaga, aluminium, minyak mentah (CPO), dan hasil perkebunan juga turun. Hal ini memberi pengaruh pada ekspor Indonesia dan melambatnya pertumbuhan ekonomi. Kenaikan harga BBM di akhir Mei 2008 lalu, diikuti naiknya harga air, dan listrik juga memicu penurunan pertumbuhan ekonomi pada triwulan 2008 ini.

Meski mengalami penurunan, namun pertumbuhan ekonomi triwulan 2008 masih terbilang tinggi. Sebabnya, pada triwulan III 2008 ini tingkat konsumsi masyarakat terbilang tinggi. Pasalnya, terdapat hari raya Lebaran, bulan puasa, dan tahun ajaran baru. "September merupakan puncak konsumsi karena ada puasa dan Lebaran. Ini membuat spending masyarakat tinggi," kata Rusman.
ANI, http://kompas.com/

Wednesday, November 12, 2008

Krisis Global, Pengembang "Wait And See"

Pelaku pasar properti mengambil sikap wait and see untuk melakukan investasi menyusul adanya krisis keuangan global. Pasalnya, krisis global memicu melemahnya kondisi perekonomian dalam negeri. Krisis keuangan global mengakibatkan perlambatan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) pada 2008.

Diperkirakan, pada 2009 perlambatan PDB, terutama komponen ekspor, impor, dan investasi, masih akan berlanjut. "Hal ini akan mengakibatkan terjadinya penundaan investasi luar ataupun lokal di sektor properti," kata Associate Director Procon Utami Prastiana saat jumpa pers di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (4/11).

Krisis keuangan global juga mendorong pemerintah dan Bank Indonesia (BI) melakukan kebijakan moneter ketat, seperti kenaikan suku bunga perbankan dan pengetatan likuiditas oleh bank-bank dengan peninjauan kembali terhadap kredit investasi baru ataupun yang sudah berjalan.

Akibatnya, memengaruhi kelanjutan proyek properti dengan pengembang yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap pinjaman perbankan. Proyek properti yang saat ini masih berada dalam tahap awal perencanaan atau konstruksi juga berpotensi untuk tertunda karena terhambatnya aliran dana dari bank.

Dari sisi permintaan, tingginya suku bunga pinjaman dan peninjauan kembali terhadap pinjaman KPR yang baru ataupun yang sedang berjalan akan berdampak pada penurunan daya beli masyarakat menengah ke bawah yang bergantung pada pinjaman perbankan. "Penurunan daya beli ini memengaruhi tingkat permintaan secara keseluruhan dan berimplikasi pula terhadap arus dana proyek properti pengembang," ujar Utami.

Pada kondisi seperti ini, baik pengembang maupun pembeli akan lebih rasional dan selektif terkait dengan investasi mereka. Calon pembeli akan semakin mempertimbangkan reputasi pengembang, sumber pendanaan yang aman, dan pentahapan konstruksi dalam mengambil keputusan untuk investasi.

Selain itu, depresiasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, terutama dollar akan berpengaruh terhadap peningkatan biaya konstruksi dan akan memengaruhi tingkat pasokan pembangunan sektor properti. Penguatan dollar akan meningkatkan biaya sewa sektor properti yang menerapkan harga sewa dalam dollar AS.

Penurunan tingkat konsumsi masyarakat diperkirakan masih akan berlanjut sampai tahun depan. Hal itu dipicu oleh berlanjutnya dampak dari tingginya tingkat inflasi, tingginya BI Rate hingga level 9,50 persen, dan penurunan tingkat pertumbuhan ekonomi yang akan menghambat pertumbuhan ketenagakerjaan.

"Konsumsi masyarakat, terutama sektor ritel, akan turun. Sektor perumahan, terutama penjualan unit perumahan dan kondominium kelas menengah ke bawah, juga akan terasa," kata Utami.

Diharapkan kinerja sektor properti akan meningkat kembali pada 2011-2013. "Banyak yang memprediksi pertumbuhan PDB Indonesia akan meningkat kembali pada 2011," tuturnya.
ANI : Kompas Selasa, 4 November 2008

Properti 2009 Akan Alami Perlambatan

Sektor properti diperkirakan akan alami perlambatan tahun 2009 mendatang karena kenaikan suku bunga bank. Menurut Chief Business Development Executive PT Procon Indah Hendra Hartono, kenaikan suku bunga perbankan membuat proyek properti yang saat ini masih berada dalam tahap awal perencanaan atau konstruksi berpotensi untuk tertunda apabila sumber aliran dana didapat dari Bank terhambat. "Tingkat permintaan juga diprediksi akan tertahan," kata Hendra, di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (4/11).

Apabila suku bunga kredit terus berada pada level tinggi seperti ini sampai dengan tahun 2009, kelanjutan dampak dari tingginya inflasi di tahun 2008 serta pertumbuhan ekonomi diprediksikan juga akan melambat. Hal ini akan menurunkan daya beli masyarakat dan akan berimplikasi terhadap penurunan tingkat permintaan di sektor properti.

Agar dapat bertahan dalam kondisi ini, pengembang akan banyak berinovasi dalam menyusun strategi pemasaran yang tepat sehingga dapat menarik dan meyakinkan calon pembeli untuk berinvestasi di properti mereka. Sampai dengan Oktober 2008, perkantoran di daerah CBD Jakarta masih merupakan sektor properti yang paling aktif dengan pasokan kumulatif mencapai 3,81 juta meter persegi naik sekitar 5 persen dari tahun lalu. Pasokan baru sampai dengan kuartal III 2008 ini, mencapai 344.000 meter persegi, dan lebih tinggi 50 persen dari pasokan baru sepanjang 2007. Sementara tingkat penyerapan sudah mencapai 260.000 meter persegi, atau 30 persen diatas penyerapan tahunan 2007.Penyerapan ini didominasi oleh sektor keuangan dan perbankan sebesar 50 persen dari total penyerapan selama III kuartal di 2008. Transaksi sewa selama kuartal III ini masih didominasi aktifitas sewa untuk tujuan relokasi dan ekspansi. "Tingkat hunian pada tahun 2009 dan 2010 diperkirakan akan berada pada kisaran 82-83 persen," ujar Hendra.

ANI: Kompas Selasa, 4 November 2008

Industri Properti Siapkan Strategi Alternatif

Dampak krisis keuangan global membuat industri properti harus mengencangkan ikat pinggang dan menyiapkan sejumlah strategi alternatif. Presiden Direktur Intiland, Lennard Ho, mengaku krisis keuangan global yang terjadi saat ini membawa dampak yang cukup luas serta dapat mempengaruhi pertumbuhan industri properti. Salah satu pengaruh paling berat adalah ketatnya likuiditas pendanaan dan risiko turunnya daya beli konsumen akibat tingginya bunga kredit.

"Karena itu, Intiland telah menyiapkan sejumlah alternatif strategi," kata Lennard melalui siaran resminya kepada pers, di Jakarta, Rabu (12/11). Guna mengurangi risiko akibat krisis tersebut, strategi yang diterapkan antaralain menerapkan kebijakan dan analisa yang ketat dan cermat serta secara hati-hati mempertimbangkan seluruh aspek reiiko ketika akan mengeksekusi suatu rencana. "Strategi lainnya kami akan melanjutkan upaya untuk semakin memperkuat neraca keuangan, salah satunya dengan mendivestasi aset-aset non-inti dan yang memberikan tingkat pengembalian rendah," katanya. Untuk pengembangan, Intiland fokus pada pengembangan proyek-proyek yang bisa memberikan tingkat pengembalian investasi yang cukup tinggi selain memiliki risiko investasi yang rendah. Pengembangan kawasan perumahan tetap menjadi salah satu fokus utama, yakni dengan meluncurkan sejumlah klaster-klaster perumahan baru. "Kami akan melanjutkan pengembangan proyek berdasarkan pada strategi tingkat pengembalian keuntungan, khususnya pada proyek-proyek perumahan menengah dan kawasan industri yang saat ini sangat diminati," kata Lennard.
Lebih lanjut Lennard mengaku optimistis mampu membukukan pertumbuhan kinerja meskipun terjadi krisis keuangan dan menghadapi sejumlah hambatan negatif dalam pengembangan. "Kami optimistis mampu melalui kondisi yang cukup berat ini dan berkeyakinan mempu membukukan keuntungan," ujarnya.
Wahyu Satriani Ari Wulan: Kompas, Rabu, 12 November 2008

Tuesday, November 4, 2008

Saat Memilih Rumah, Jangan Abaikan Faktor Lokasi

Pertimbangan Pemilihan Lokasi
Agar Anda tidak bingung dalam menentukan lokasi rumah yang cocok dan pas untuk Anda, berikut ini beberapa pertimbangan yang dapat digunakan.
1. Nilai rumah
Fungsi rumah yang tercermin dari lokasi akan berefek pada harga jual. Semakin banyak fungsi rumah maka harganya semakin tinggi. Pertimbangan di sini adalah apakah harganya sudah mencerminkan nilai dan manfaat yang akan Anda peroleh. Alangkah sayangnya kalau Anda membeli rumah di lokasi dengan berbagai fasilitas tetapi Anda menghabiskan seluruh waktu di tempat kerja. Atau rumah yang Anda beli mahal, hanya ditempati sekali sebulan atau pada akhir pekan saja.
2. Fasilitas pendidikan (sekolah)
Mempunyai anak atau tidak, Anda perlu peduli tentang masalah ini. Pasalnya, umumnya orang tua akan peduli masalah ini dan mereka memberi penghargaan pada kualitas sekolahan. Fasilitas sekolah harus dekat dengan tempat tinggal Anda. Jangan sampai putera-puteri Anda capai di jalan sehingga tidak bisa berkonsentrasi belajar.

Selain itu, penghargaan atas mutu sekolah akan mempunyai dampak langsung pada nilai properti di sekitar sekolahan tersebut. Maka tidak heran kalau banyak pengembang membangun sendiri fasilitas pendidikan, atau bekerjasama dengan pengelola sekolahan swasta. Para pengembang menilai bahwa sebuah sekolahan di sebuah kawasan atau kompleks perumahan dapat menarik minat pembeli.

3. Feng Shui rumah
Dalam membeli rumah, tidak ada kata terlalu hati-hati. Sedapat mungkin hindari atau kurangi risiko salah pilih. Salah satu caranya adalah dengan mempertimbangkan hal yang bersifat tradisional dan kurang konvensional, seperti Feng Shui. Anda boleh tidak percaya pada Feng Shui, tetapi sebagai pembeli Anda perlu peduli. Pasalnya, mereka yang percaya pada Feng Shui akan menentukan jumlah permintaan dan penawaran. Bila rumah Anda memenuhi kaidah Feng Shui, maka tidak heran bila ketika menjual kembali pasti sudah banyak orang yang menaksir rumah Anda.

4. Aspek perpajakan
Transaksi tanah atau bangunan merupakan obyek pajak. Selanjutnya sebagai pemilik tanah dan bangunan Anda akan dikenai Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Oleh karena itu pertimbangkan aspek perpajakan untuk mengetahui berapa besar pengeluaraan tambahan Anda baik pada saat membeli maupun untuk membayar pajak setiap tahunnya (PBB).

5. Perkembangan masa depan
Sebelum membeli, ada baiknya Anda mengetahui pola perkembangan baru atau renovasi besar yang akan atau sedang dilakukan di wilayah lokasi rumah tersebut. Hal ini untuk memprediksi pembangunan apa yang akan dilakukan di sekitar lingkungan lokasi rumah Anda. Untuk itu Anda dapat mengecek ke Dinas Tata Ruang Kota atau pejabat lain yang berwenang.

6. Resiko bencana
Apakah lingkungan lokasi rumah yang akan dibeli mudah terserang bencana banjir, kebakaran, atau tanah longsor? Jika rumah Anda masuk ke dalam lokasi yang rawan akan bencana, lebih baik Anda mengurungkan niat Anda untuk membeli rumah itu. Memang Anda dapat mengasuraikan rumah Anda untuk melindungi secara finansial dari bencana ini. Namun, Anda juga harus mempertimbangkan bagaimana mengatasi bencana secara emosional. Asuransi hanya meringankan penderitaan finansial dari kehilangan rumah, tetapi bagaimana meringankan perasaan Anda?

7. Tingkat hunian
Bila Anda membeli rumah yang lokasinya di dalam perumahan, perhatikan apakah semua rumah sudah terisi semua atau belum. Bila rumah-rumah di lokasi itu banyak yang kosong, harap Anda waspada. Bisa jadi kekosongan rumah terjadi karena lingkungannya kurang bagus atau karena ada potensi resiko tertentu. Maka, setidaknya pilihlah lokasi yang tingkat huniannya diatas 50%.

Semua pertimbangan diberikan agar Anda tidak salah langkah. Namun, semua pilihan lokasi diserahkan kepada Anda.(Jaka Eko Cahyono-Wartawan dan penulis buku/http://www.tabloidrumah.com)


Perhatikan factor lokasi, lokasi dan lokasi saat memilih rumah

Setiap orang tentunya menginginkan rumah sebagai tempat tinggal untuk menetap hingga usia tua. Agar rumah dapat digunakan terus menerus dan dapat memberikan kenyamanan, maka dalam mencari rumah harus benar-benar teliti dan seksama.

Teliti dalam mencari rumah tidak berarti hanya memperhatikan segi fisik rumah seperti menentukan spesifikasinya. Namun, teliti juga berarti mempertimbangkan segi non fisik, misalnya saja menyesuaikan anggaran dengan rumah yang diinginkan.
Setelah merencanakan serta menyediakan anggaran dan menentukan tipe rumah, tahap berikutnya adalah menentukan lokasi rumah. Ini merupakan tahap penting yang termasuk dalam pertimbangan non fisik ketika akan membeli rumah. Lokasi yang tepat mampu memberikan kenyamanan selama Anda menghuni rumah dan mempermudah Anda ketika akan menjual rumah tersebut nantinya.


Dekat Tol Lebih Bernilai

Oleh pengembang, biasanya pertimbangan lokasi rumah digunakan sebagai “senjata” untuk memasarkan sebuah rumah. Hal ini dapat dilihat pada brosur penawaran yang dibagikan oleh pengembang saat menjual rumah barunya. Di setiap brosur, para pengembang pasti tidak lupa menulis kata-kata yang bernada optimis bahwa rumah yang ditawarkan dekat dengan berbagai fasilitas, seperti “Lokasi mudah dicapai. Hanya 5 menit dari gerbang tol”. Walaupun tatanan kalimatnya tidak sama, hampir semua pengembang menulis kalimat yang intinya menawarkan rumah dengan iming-iming lokasi yang mudah dijangkau.

Lokasi rumah, khususnya perumahan baru, biasanya terletak jauh dari pusat kota. Sebagai contoh, rumah-rumah baru di sekitar Jabodetabek, umumnya berada jauh dari sentral kota seperti Jakarta. Akan tetapi jarak yang jauh ini dipermudah dengan akses penghubung yang cepat dan praktis seperti jalan tol, sehingga dapat memudahkan warganya untuk menuju lokasi tersebut. Karena itu perumahan yang lokasinya berada dekat dengan jalan tol memiliki daya tarik lebih besar bagi konsumen, karena berarti perumahan tersebut lebih mudah dijangkau.(Jaka Eko Cahyono-wartawan dan penulis buku/http://www.tabloidrumah.com)

Jangan Jauh dari Tempat Kerja

Lokasi rumah memiliki nilai tersendiri bagi konsumen, baik untuk dihuni sendiri, disewakan, atau untuk investasi. Karena itu pembeli harus mempertimbangkan lokasi dengan seksama sebelum memutuskan untuk membeli rumah. Pasalnya kemungkinan besar pembeli akan menggunakan rumah tersebut dalam jangka waktu lama. Ini berbeda dengan penyewa yang umumnya bersifat sementara dan bisa pindah sewaktu-waktu. Untuk itu, lokasi ini harus dilihat apakah mudah dicapai atau tidak.



Selain itu, lokasi rumah jangan sampai terlalu jauh dari tempat kerja Anda. Bisa dibayangkan apabila jarak rumah Anda jauh, berapa lama waktu yang Anda butuhkan setiap harinya untuk pergi-pulang dari rumah menuju tempat kerja Anda? Jarak yang jauh juga akan menambah pos pengeluaran keuangan Anda untuk konsumsi bahan bakar jika mengendari kendaraan pribadi.

Bagi penyewa rumah, lokasi berkaitan dengan fungsi sumber kenyamanan. Ini dapat menggambarkan mengapa banyak orang memilih menyewa apartemen di tengah kota, meski secara finansial ia mampu membeli rumah tetapi di pinggir kota. Bahkan banyak orang memilih menyewa rumah di kota dan menyewakan rumahnya sendiri yang ada di wilayah lain.

Jika Anda membeli rumah untuk berinvestasi, pertimbangan lokasi tidak kalah pentingnya. Pemilihan lokasi dapat menentukan hasil keuntungan yang bisa dicapai. Sebagai contoh kasus, di beberapa lokasi, kenaikan harga tanah dan rumah di suatu wilayah lebih tinggi daripada di wilayah lain. Tentu saja ada faktor lain yang menyebabkan kenaikan harga selain lokasi yang menguntungkan, seperti kondisi ekonomi secara umum dan laju pertambahan penduduk.

Sejak jaman Romawi kuno, rumah juga digunakan sebagai sarana untuk investasi. Agar bisa mendapatkan lokasi yang tepat, sebaiknya Anda meluangkan waktu yang memadai untuk mencari. Berpikiranlah terbuka untuk melihat tipe-tipe rumah idaman di beberapa lokasi sebelum menyempitkan pencarian ke lokasi tertentu. Selama mencari, Anda mungkin melihat puluhan atau bahkan ratusan unit rumah di pasaran.

Gunakan hal ini sebagai peluang menemukan pilihan. Harga yang diminta penjual tidak selalu mencerminkan nilai sebuah rumah. Namun biasanya, rumah dengan nilai yang bagus lebih cepat laku. Sedangkan rumah yang sulit terjual seringkali ditawarkan dengan harga yang terlalu tinggi.



Kondisi Sosial

Setelah lokasi ditentukan dan mengecek kondisi fisik rumah, sebaiknya Anda juga mengetahui kondisi lingkungan sosial di lokasi rumah yang Anda pilih. Jangan sampai Anda nanti membeli rumah di lokasi yang membuat Anda merasa tidak aman dan nyaman karena lingkungannya tidak “sehat”. Sebaiknya, Anda perlu mengecek secara menyeluruh lingkungan tersebut dan tidak hanya mengandalkan informasi lokasi rumah dari iklan, brosur promosi, atau agen properti.



Bagaimana caranya mengecek? Anda dapat mengunjungi kembali lingkungan rumah yang Anda incar pada hari yang berbeda dan waktu yang berbeda. Jika saat ini mengunjungi pada siang hari, besoknya Anda mengunjungi lagi pada malam hari. Ketuk pintu beberapa calon tetangga dan tanyai mereka tentang kondisi lingkungan sosial sekitarnya. Bila Anda akan menyewa, ada baiknya berbicaralah kepada pihak penyewa. Karena tidak mempunyai kepentingan jangka panjang di wilayah itu, penyewa akan memberi informasi secara lebih terbuka.

Meskipun Anda sudah mengetahui kondisi lingkungan dan memutuskan untuk membeli rumah di wilayah tersebut, yakinkan juga Anda melihat pilihan rumah yang lain di wilayah tersebut. Jika Anda mengalokasikan Rp 200 juta untuk sebuah rumah, lihat rumah yang ditawarkan lebih mahal yang ada di sekitarnya. Siapa tahu Anda hanya perlu mengeluarkan sedikit lebih banyak untuk mendapatkan fasilitas yang jauh lebih tinggi nilainya.
sumber: harian kompas


Saturday, November 1, 2008

Waspadai Kredit Macet Properti

PERTUMBUHAN industri properti yang sebelumnya diperkirakan bakal melambat seiring meningkatnya inflasi dan suku bunga ternyata malah menunjukkan perkembangan spektakuler sepanjang tahun 2008.

Hal itu ditandai dengan pesatnya laju kredit properti yang meliputi kredit konstruksi, real estate, serta kepemilikan rumah dan apartemen yang di atas pertumbuhan kredit sektor lainnya. Di tengah tekanan inflasi dan suku bunga yang belum mereda hingga kini, penyaluran kredit properti yang tinggi tentu menyimpan potensi kredit bermasalah di kemudian hari.

Pesatnya pertumbuhan kredit properti tak terlepas dari pertumbuhan ekonomi yang di luar dugaan masih memanas sampai sekarang. Kenaikan harga komoditas pertanian dan pertambangan yang gila-gilaan, terutama pada semester I-2008, ternyata telah meningkatkan pertumbuhan ekonomi kawasan luar Jawa yang menjadi produsen komoditas bersangkutan.

Bergeraknya roda investasi dan usaha pada akhirnya melambungkan tingkat konsumsi masyarakat, termasuk pada permintaan properti. Tak aneh permintaan kendaraan bermotor dan semen untuk pembangunan properti mencapai puncaknya pada tahun ini.

Dunia usaha terus memacu ekspansinya tahun ini seolah tak peduli dengan tingginya inflasi dan suku bunga. Pelaku usaha berpikir, jika tidak sekarang, lantas kapan lagi waktu meningkatkan kapasitas usaha, mengingat tahun depan sudah memasuki masa penyelenggaraan pemilu yang tentu meningkatkan risiko usaha dan investasi.

Pelaku usaha membidik tahun 2010 yang disebut-sebut sebagai tahun kebangkitan Indonesia. Perilaku pengusaha ini tentu saja meningkatkan pendapatan dan konsumsi masyarakat di segmen tertentu. Alhasil, pertumbuhan kredit terus mencatat rekor, mencapai 32 persen pada Juli-Agustus 2008 dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Industri properti yang selalu menjadi indikator awal dari perekonomian yang memanas pun tumbuh kencang mencapai 38,5 persen pada periode yang sama. Kredit konstruksi yang antara lain berupa pembangunan gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan tumbuh sekitar 40 persen dari Rp 38,5 triliun pada Juli 2007 menjadi Rp 54 triliun pada Juli 2008.

Kredit pemilikan rumah (KPR), kredit pemilikan apartemen (KPA), dan kredit pemilikan rumah toko (ruko) atau rumah kantor (rukan) tumbuh 38 persen pada periode yang sama, dari Rp 73,64 triliun menjadi Rp 101,45 triliun.

Fenomena tersebut seolah membalikkan semua prediksi, yang awalnya menyebutkan industri properti tahun ini paling banter hanya tumbuh 25 persen. Bahkan, awalnya diperkirakan pembangunan pusat perbelanjaan dan mal akan mengalami kontraksi pada tahun 2008 mengingat segmen ini dianggap sudah jenuh, yang ditandai dengan banyaknya tenan yang kosong.

Bank Tabungan Negara (BTN), yang selama ini fokus membiayai kredit properti, pun kebanjiran permintaan. Kredit perumahan baru yang disalurkan BTN selama periode Januari-Juni 2008 mencapai Rp 4,52 triliun, meningkat 79 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang hanya sekitar Rp 2,37 triliun.

Pertumbuhan kredit baru yang pesat terutama terjadi pada KPR nonsubsidi yang tumbuh sekitar 113 persen, dari Rp 1,7 triliun menjadi Rp 3,63 triliun.

Memasuki semester II-2008, pertumbuhan kredit BTN bertambah pesat. Pada akhir Juli 2008, kredit baru yang disalurkan BTN mencapai Rp 5,29 triliun, atau sudah mencapai 73,4 persen dari target keseluruhan tahun 2008 yang sebesar Rp 7,2 triliun. ”Target keseluruhan tahun diperkirakan sudah akan tercapai pada bulan September 2008,” kata Dirut BTN Iqbal Latanro, beberapa waktu lalu.

Kualitas pertumbuhan kredit

Hingga akhir Juli 2008, kualitas pertumbuhan kredit properti memang masih berlangsung baik. Rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) kredit konstruksi secara gross (belum dikurangi provisi) hanya 3,79 persen. Begitu pula dengan NPL KPR dan KPA yang angkanya terus menurun dibandingkan dengan waktu-waktu sebelumnya.

Namun, pertumbuhan kredit properti yang terlampau cepat tetap mesti diwaspadai di tengah kondisi perekonomian yang belum menentu seperti saat ini. Inflasi per Agustus 2008 telah mencapai 11,85 persen sehingga daya gerusnya terhadap nilai uang yang dimiliki masyarakat cukup besar. Tekanan terhadap inflasi masih tetap tinggi di tengah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.

Jika inflasi terus meningkat, suku bunga juga akan terus meninggi. Padahal, selama periode April-Agustus 2008 saja, bank-bank sudah menaikkan suku bunga KPR berkisar 0,5-1 persen menjadi sekitar rata-rata 15,5 persen per tahun.

Semakin tinggi kenaikan bunga KPR, tentu saja semakin mengurangi kemampuan masyarakat, terutama kelas menengah ke bawah untuk membayar cicilan sehingga memperbesar potensi kredit macet. Perilaku perbankan yang jorjoran memberikan pinjaman KPR sedikit banyak akan menjadi bumerang jika tidak dibarengi tingkat kehati-hatian yang tinggi.

Belum lagi intaian risiko resesi global yang terus mengancam hingga kini. Jika terjadi perlambatan ekonomi, sudah barang tentu pendapatan masyarakat relatif akan berkurang. Ujung-ujungnya tentu memengaruhi kemampuan nasabah dalam mencicil kredit.

Jangan jorjoran

Jika perbankan sudah tergelincir pada persoalan NPL, dampaknya akan berkepanjangan. Bank yang memiliki NPL tinggi tentu untuk sementara akan mengerem kreditnya sehingga pertumbuhan kredit menjadi tidak berkesinambungan.

Padahal, kebutuhan rumah oleh masyarakat merupakan persoalan yang tak pernah selesai, dalam arti kebutuhan papan akan terus ada sampai kapan pun. Jika terjadi pengereman KPR yang tajam gara-gara NPL, defisit antara pasokan dan permintaan rumah bakal kian membesar.

Apalagi, berdasarkan survei, sebagian besar pembelian rumah dilakukan dengan KPR. Rinciannya, 75,4 persen dengan KPR, 17,1 persen dengan tunai bertahap, dan 6,5 persen tunai keras. Karena itulah, untuk menjaga kesinambungan kredit properti, ada baiknya bank tidak jorjoran menyalurkan kredit hingga jauh melampaui target semula.

Bank Indonesia pun sebenarnya waswas dengan pertumbuhan permintaan, termasuk properti yang kian memanas. Namun, dilema klasik tak urung menghantui BI. Untuk meredam ekonomi yang memanas akibat tingginya permintaan, salah satu cara adalah dengan terus menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate yang akhirnya nanti akan mendorong kenaikan suku bunga kredit.

Namun, kenaikan BI Rate yang lebih tinggi, apalagi yang tidak proporsional, juga berpotensi meningkatkan NPL akibat terjadi kontraksi ekonomi yang terlalu dalam. Karena itulah, diperlukan pula kemauan perbankan untuk mengerem kreditnya. Menjaga kesinambungan pertumbuhan lebih penting ketimbang mengejar keuntungan besar, tetapi sesaat.
Sumber Harian umum Kompas, Kamis, 18 September 2008